|
Latest News
|
|
Written by Marinus Kristiadi Harun
|
|
Friday, 20 January 2012 |
|
Hutan Untuk Ketahanan Pangan Oleh: Marinus Kristiadi Harun, S.Hut., M.Si. Peneliti Muda Pada Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru E-mail:
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
atau
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Pendahuluan Krisis pangan telah menjadi kekuatiran banyak pihak saat ini. Kemarau panjang dan banjir telah menyebabkan kegagalan panen di beberapa tempat. Langkah darurat jangka pendek untuk mencegah kelaparan dan langkah jangka panjang untuk meningkatkan produksi bahan pangan perlu segera dilakukan. Krisis pangan yang terjadi saat ini memerlukan adanya solusi. Tulisan ini bermaksud untuk membahas mengenai krisis pangan dan solusinya. Penyebab Krisis Pangan dan Solusinya Krisis ekonomi yang terjadi bersamaan dengan penurunan produksi pangan akibat dari perubahan iklim, telah menyebabkan terbatasnya ketersediaan bahan pangan yang disertai dengan melemahnya daya beli masyarakat. Hal ini semakin diperburuk oleh semakin menurunnya minat petani untuk membudidayakan tanaman pangan (khususnya padi), akibat meningkatnya harga input (pupuk, bibit, dll.). Hal tersebut jika dibiarkan saja dapat memperlemah sistem ketahanan pangan. Ketahanan pangan sangat perlu untuk diwujudkan, sebab hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk memenuhi kecukupan pangan masyarakat dari waktu ke waktu baik dari kuantitas maupun kualitas. Hal ini dilakukan dengan cara memproduksi sendiri maupun mengimpor. Terwujudnya sistem ketahanan pangan akan tercermin dari ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup dan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat, serta adanya diversifikasi pangan baik dari sisi produksi maupun dari sisi konsumsi. Oleh karena itu, pembangunan di bidang pangan diarahkan pada peningkatan swasembada pangan, yang tidak hanya berorientasi pada beras, namun juga jenis-jenis komoditas strategis lainnya, misalnya palawija, sebagai bahan pangan utama (Suhardi et.al 2002). Peningkatan swasembada pangan, yang tidak hanya berorientasi pada beras perlu untuk dilakukan. Pengembangan bahan pangan alternatif selain beras akan mendorong pemanfaatan lahan-lahan tidur dan optimalisasi pemanfaatan lahan. Selama ini kita kurang menyadari bahwa di bawah keteduhan hutan dan kebun tersembunyi potensi sumber pangan yang melimpah, sebagai pengganti beras, dengan nilai gizi yang sepadan. Hal ini seperti diungkapkan oleh Kuswiyati et.al 1999 yang mengatakan bahwa hutan Indonesia seluas 143 juta hektar di dalamnya terkandung 77 jenis bahan pangan sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 75 jenis minyak dan lemak, 389 jenis biji-bijian dan buah-buahan, 228 jenis sayur-sayuran, 110 jenis rempah-rempah dan bumbu-bumbuan, 40 jenis bahan minuman dan 1.260 jenis tanaman obat. |
|
Last Updated ( Friday, 20 January 2012 )
|
|
Read more...
|
|
|
Latest News
|
|
Written by Marinus Kristiadi Harun
|
|
Thursday, 19 January 2012 |
|
HUTAN MENJAWAB KRISIS ENERGI Oleh: Marinus Kristiadi Harun, S.Hut., M.Si. Peneliti Muda Pada Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru E-mail:
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
atau
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Pendahuluan Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) kini sedang mengancam Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah karena pertumbuhan konsumsi yang sangat cepat hingga di atas 10% per tahun. Salah satu sumber energi alternatif pengganti BBM adalah Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel. Pada awalnya, biofuel dipandang sebagai subtitusi BBM yang paling tepat. Hal ini disebabkan biofuel dipandang lebih ramah lingkungan atau “greener” serta dikampanyekan sebagai sustainable energy. Beberapa negara yang sangat agresif mengembangkan biofuel diantaranya Amerika Serikat (AS), Brasil dan negara-negara Eropa. Amerika Serikat memiliki pilihan utama pada jagung dan kedelai, sedangkan Brasil memilih menggunakan tetes tebu. Oleh karena itu, AS dan Brasil mendominasi dalam produksi bioetanol di tingkat internasional yaitu masing-masing sebesar 46% dan 42%. Pada tahap selanjutnya, pengembangan biofuel mengandung bahaya dan resiko yang tinggi (Lesmana, 2007). World Bank melalui laporannya yang terbaru dalam World Development Report 2008 menyatakan bahwa konversi bahan pangan utamanya jagung menjadi bahan biofuel di AS perlu dikaji lebih mendalam. Dilaporkan pada Tahun 2006/2007 sekitar seperlima jagung yang dipanen digunakan untuk bahan baku etanol, namun hanya mampu mengganti 3% dari kebutuhan BBM di AS. Pada Tahun 2010, sekitar 30% jagung yang dipanen di AS digunakan oleh pabrik pembuat etanol, namun hanya akan mampu mengganti sekitar 5% dari total kebutuhan BBM-nya (Organization for Economic Cooperation and Development, 2008). Biofuel: bahan pangan untuk pangan atau untuk bahan bakar? Indikasi keterkaitan yang sangat erat antara membumbungnya harga pangan dunia dengan kontribusi kebijakan pengembangan biofuel juga dilaporkan oleh The Guardian Newspaper edisi 4 Juli 2008. Biofuel telah menyebabkan kenaikan harga pangan dunia sampai dengan 75%. Menurut The Guardian, tanpa adanya konversi penggunaan jagung dan gandum secara besar-besaran untuk bahan baku biofuel, stok untuk dua komoditas tersebut diperkirakan tidak akan mengalami penurunan yang signifikan dan kenaikan harganya hanya akan pada tingkat yang moderate. Laporan juga mengestimasi bahwa kenaikan energi dan pupuk hanya menyebabkan kenaikan 15% atas harga pangan dunia, sedangkan biofuel yang diestimasikan bertanggungjawab atas kenaikan sampai dengan 75% terhadap melonjaknya harga pangan (Prastowo, 2007). Hal senada juga dikemukakan National Post, AS sebagai negara penghasil pangan terbesar di dunia pada satu dua tahun terakhir ini telah melakukan perubahan dan pergeseran pemanfaatan lahan pertanian yaitu perubahan orientasi produksi tanaman pangan menjadi lahan untuk produksi bahan biofuel. Diperkirakan sekitar 16 persen lahan pertanian yang awalnya ditanami kedelai dan gandum dirubah menjadi lahan jagung untuk memasok pabrik biofuel (Sanusi, 2008). Penyerapan bahan baku pangan yang digunakan sebagai BBN yang besar dikuatirkan akan memicu terjadinya krisis pangan. Hal ini dapat dijelaskan dari ilustrasi berikut. Untuk menghasilkan 1.000 liter bioethanol diperlukan 2.300 kg jagung, atau 2.800 kg gandum, atau 10.000 kg bit gula (setara 13.000 kg tebu) (Pertamina, 2006). Ilustrasi yang lebih kongkrit dalam hal persaingan bahan pangan dan bahan biofuel misalnya untuk memenuhi kebutuhan satu tanki mobil sport selama satu hari dibutuhkan etanol sebanyak 100 liter yang diproduksi dari 240 kilogram jagung. Jumlah jagung tersebut dapat untuk digunakan memberi makan satu orang selama satu tahun. Fakta inilah yang semakin memperjelas persaingan yang nyata antara ketersediaan bahan pangan dan produksi biofuel. Alih fungsi bahan pangan manusia menjadi sumber energi alternatif berdampak pada harga pangan yang melambung akibat kelangkaan. Kedelai misalnya, tembus hingga Rp 7.500/kg dari Rp 3.450/kg. Mahalnya harga kedelai terjadi akibat pengalihan minyak mentah dengan biofuel oleh AS. |
|
Read more...
|
|
|
Newsflash
|
|
Written by Fauziah
|
|
Wednesday, 28 December 2011 |
|
Kami semua, pimpinan dan karyawan BPK Banjarbaru di rundung duka karena pada Tanggal 27 Desember 2011 di BPK Banjarbaru telah terjadi perampokan yang mengakibatkan meninggal dunia bapak Muhammad Ra'i ( petugas jaga malam kantor). Kejadian tersebut baru diketahui pada pagi harinya sekitar pukul 07.00 wita. Kepada keluarga Bapak Muhammad Ra'i semoga diberikan kesabaran dan semoga Bapak Muhammad Ra'i mendapatkan rahmat dan tempat terbaik di Surga Nya Allah SWT karena perjuangan dan kegigihan beliau bekerja untuk memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Selamat jalan Pak Muhammad.... kami selalu mengenang jasa -jasamu... |
|
Last Updated ( Wednesday, 28 December 2011 )
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>
|
| Results 1 - 4 of 19 |