Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam Bahas Heart of Borneo

SIARAN PERS
Nomor : S.124/II/PIK-1/2008

INDONESIA, MALAYSIA, DAN BRUNEI DARUSSALAM BAHAS HEART OF BORNEO

Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam akan melaksanakan the 2nd Tri-Lateral Meeting di Pontianak pada tanggal 4-5 April 2008. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari the 1st HoB (Heart of Borneo) Tri-Lateral Meeting di Brunei Darussalam tanggal 18-20 Juli 2007 dan Preparatory Meeting for the 2nd HoB Tri_Lateral Meeting.

The 2nd Tri-Lateral Meeting ini akan membahas Rencana Aksi Strategis (Strategic Plan of Action Heart of Borneo) forum tiga negara untuk Heart of Borneo yang selanjutnya akan menjadi dasar untuk mewujudkan visi konservasi dan pembangunan berkelanjutan ketiga negara tersebut di jantung pulau Borneo. Rencana aksi ketiga negara ini merupakan tindak lanjut deklarasi ketiga negara untuk Heart of Borneo sebelumnya di Bali. Dalam deklarasi tersebut masing-masing negara memperoleh mandat untuk menyiapkan dokumen kerja nasional (National Project Document) terkait rencana dan langkah operasional untuk melaksanakan konsep HoB baik di tingkat nasional maupun lokal.

Program kerjasama yang telah disepakati ketiga negara dalam HoB ini meliputi kerjasama lintas batas (Transboundary Management), pengelolaan kawasan konservasi (Protected Areas Management), pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan pada kawasan non-konservasi (Sustainable Natural Resource Management), dan pendanaan (Sustainable Financing). Dalam the 2nd Tri-Lateral Meeting di Pontianak tanggal 4-5 April 2008, diharapkan terwujud kesepakatan pembentukan kelembagaan HoB untuk memudahkan forum mengimplementasikan deklarasi secara efektif. Kelembagaan ini nantinya akan menginisiasi, mendukung, dan menyiapkan mekanisme dialog, konsultasi, kerjasama, dan partisipasi tiga negara ini dalam hal penyusunan dan pelaksanaan inisiatif konservasi dan pembangunan berkelanjutan dalam lingkup HoB.

Heart of Borneo, merupakan upaya konservasi hutan lintas negara Indo-Malayan di Asia Tenggara, tepatnya di Pulau Borneo, dengan areal seluas 220.000 km2 yang mencakup wilayah Indonesia (57,1%), Malaysia (42,3%), dan Brunei Darussalam (0,6%). Heart of Borneo dengan luas areal hampir sepertiga dari luas total Pulau Borneo, merupakan ekosistem unik yang memiliki biodiversitas tinggi dengan kondisi geografis didominasi oleh dataran tinggi dan pegunungan dan menjadi daerah serapan air yang menyediakan air ke seluruh Pulau Borneo.

Jakarta, 1 April 2008                    
Kepala Pusat Informasi Kehutanan,
ttd.                      
Achmad Fauzi             
NIP. 080030366    

Sumber : http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/3566

 

Statistik Pengunjung

Members: 315
News: 52
Web Links: 64
Visitors: 596265

Kalendar Kegiatan

September 2010
S M T W T F S
2930311 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2
This month

Gallery Foto

Chat dengan Admin

powered_by.png, 1 kB

Beranda arrow Blog arrow Indonesia Bisa Gigit Jari 'Carbon Trade Dollar" Akhir Mengalir Ke Negara Kaya
Indonesia Bisa Gigit Jari 'Carbon Trade Dollar" Akhir Mengalir Ke Negara Kaya PDF Print E-mail
User Rating: / 2
PoorBest 
Written by Firmansyah Afandi   
Wednesday, 09 January 2008
Jika dinamika "green movement", khususnya perjuangan untuk mengubah paradigma lingkungan dari yang selama ini ada, tidak diamati secara jeli dan tak segera diantisipasi, maka Indonesia tidak akan mendapatkan hak yang semestinya dari "carbon-trade dollar" untuk negara-negara yang memiliki tegakan hutan.

"Maka jangan heran jika 10 tahun mendatang Indonesia hanya akan `gigit jari` melihat kenyataan bahwa `carbon trade dollar` akhirnya kembali mengalir ke negera-negara kaya," kata Dr Ir Ricky Avenzora, MScF, peneliti dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) di Denpasar, Bali, Senin (10/12).

Ditemui disela-sela mengikuti kegiatan Konferensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), ia mengemukakan bahwa Untuk menghadapi itu semua, hendaknya para pakar kehutanan dan lingkungan, baik kalangan praktisi, pemerintah, akademisi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia segara berhenti dari segala "retorika warung kopi" dan "debat kusir" yang panjang dan tidak berguna.

"Dan segeralah `bangun` serta bersatu untuk kepentingan nasional," kata doktor lulusan George August Universitaet Gottingen, Jerman itu.

Ia mengemukakan, terlepas dari strategi-strategi politik lingkungan negara-negara adidaya --yang menerapkan standar ganda-- maka usulan Indonesia untuk membentuk Kaukus Kehutanan negara-negara yang memiliki Hutan Hujan Tropis, guna berkolaborasi dalam menyelamatkan hutan tropis dan sekaligus memetik dana lingkungan dari setiap hektar hutan yang ada, disebutnya "patut diacungi jempol".

Pada awalnya, cuma delapan negara yang menyatakan bersedia bergabung dalam kaukus itu, namun kemudian bertambah jadi 12 negara, sehingga total negara pemilik hutan hujan tropis yang bersepakat akan melestarikan hutannya adalah 12 negara, yakni Indonesia, Brasil, Kosta Rika, Kamerun, Kolombia, Gabon, Malaysia, Kongo, Republik Demokratik Kongo, Meksiko, Papua Nugini, dan Peru.

Menurut dia, meskipun "carbon-trade dollar" yang sedang diperjuangkan tersebut barangkali baru 10 tahun mendatang benar-benar akan mengalir ke negara-negara yang memiliki tegakan hutan, namun setidaknya anggota kaukus dapat bersatu dalam membangun posisi tawar yang lebih baik untuk kepentingan bersama.

Lebih jauh, kata dia, hendaknya Indonesia tidak hanya bermain pada "sinetron politik lingkungan dunia" belaka, melainkan juga harus lebih jeli mencermati tindakan praktis berbagai negara maju dalam memenangkan percaturan politik lingkungan tersebut.

Ia merujuk pada langkah-langkah nyata yang diambil oleh Korea Selatan, yang dapat dijadikan sebagai contoh. Di Korea Selatan, 80 persen dari kebutuhan kayu dalam negeri mereka saat ini adalah diimpor dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Telah hampir 10 tahun Korea Selatan menerapkan semacam "very limited logging" di dalam negeri dengan menjadikan hutan-hutan negara untuk "recreation forest" dan berbagai jasa lingkungan lainnnya.

http://www.rri-online.com/modules.php?name=Artikel&sid=35730

 

 

Last Updated ( Wednesday, 09 January 2008 )
 
< Prev
© 2010 .:Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru :.Forestry Research Institute of Banjarbaru (FOREI Banjarbaru ):.
Jl.Sei Ulin 28 Banjarbaru Kalimantan Selatan 70714 Telp.0511-4772085, Fax.0511-4773222